Mengenal Status Pembatasan Sosial Berskala Besar & Dampaknya

Cara Mengatasi Penyebaran Virus Corona

Saat ini pandemi virus corona atau lebih dikenal dengan sebutan Covid-19 bisa dikatakan merupakan sosok yang paling ditakuti oleh manusia di berbagai belahan dunia. Seperti kita ketahui, virus mematikan yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Hubei, China ini tercatat telah memakan begitu banyak korban. Menurut informasi yang berhasil Warungbetting dapatkan dari laman resmi detikcom. Sampai saat ini angka kematian pasien akibat terinfeksi virus mematikan ini sudah mencapai 88,567 korban jiwa.

Cara Mengatasi Penyebaran Virus Corona

Untuk menekan dan membatasi virus corona agar tidak menyebar semakin luas, beberapa negara di berbagai belahan dunia saat ini telah memberlakukan sistem lockdown. Salah satunya seperti yang telah dilakukan oleh pemerintahan Indonesia. Dimana terhitung hari ini DKI Jakarta yang menjadi episentrum penyebaran virus corona di Indonesia telah memberlakukan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ) kepada seluruh masyarakatnya.

Apa itu Pembatasan Sosial Berskala Besar?

Meningkatnya jumlah kasus yang terjadi akibat penyebaran wabah virus corona di beberapa wilayah di Indonesia tentunya sangat meresahkan kita. Selain membahayakan kesehatan, virus yang terus merenggut korban jiwa ini juga berimbas pada semua sektor perekonomian dalam negeri.

Sebut saja seperti yang dialami usaha mikro, kecil dan menengah ( UMKM ). Imbas dari kondisi tersebut, segala kegiatan yang selama ini lebih sering kita lakukan diluar rumah untuk sementara waktu haruslah dibatasi. Meskipun terasa berat, namun mau bagaimana pun juga kita sudah sepatutnya wajib mendahulukan keselamatan dan kesehatan antar sesama melebihi apapun.

Salah satunya cara mengatasi penyebaran virus corona yang bisa kita lakukan pada saat ini adalah dengan mengikuti himbauan dan aturan yang telah diterapkan oleh pemerintahan Indonesia melalui PSBB. Sebagaimana tertuang dalam pasal 1 Permenkes No 9 tahun 2020 yang berbunyi.

Pembatasan Sosial Berskala Besar adalah pembatasan kegiatan tertentu pendudukan dalam suatu wilayah di Indonesia yang diduga terinfeksi Coronavirus Disease 2019 ( Covid-19 ) sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran Coronavirus Disease 2019 ( Covid-19 )

Perlu kalian ketahui, untuk mengajukan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ) sejumlah kepada daerah harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. Diantaranya yang telah tertuang dalam Pasal 2 Permenkes No 9 tahun 2020, berbunyi :

  • Jumlah kasus dan/atau jumlah kematian akibat penyakit meningkat dan menyebar secara signifikan dan cepat ke beberapa wilayah di Indonesia.
  • Ada kesamaan dalam hal pola penyebaran penyakit dengan wilayah atau negara lain.

Jika melihat 2 poin diatas, maka sudah sepatutnya DKI Jakarta yang merupakan pusat dari putaran ekonomi serta pemerintahan Indonesia telah memenuhi persyaratan tersebut. Hal itu dapat dibuktikan dari jumlah pasien positif corona yang tercatat di situs web corona,jakarta,go,id telah mencapai 1,810 orang. Dimana 156 orang telah dinyatakan meninggal, 82 sembuh, 1,139 orang dalam perawatan jalan dan 433 orang melakukan isolasi mandiri.

Apa Saja yang Dibatasi Dalam PSBB?

Perlu kalian ketahui, banyak hal yang membedakan masyarakat Indonesia dengan negara lainnya. Salah satunya adalah mengenai mayoritas mata pencaharian penduduk di berbagai daerah di Indonesia yang pada umumnya berada di luar rumah.

Dengan kondisi seperti itu, maka bisa dikatakan Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat rawan terhadap penyebaran wabah virus corona yang mematikan tersebut. Demi membatasi penyebaran virus Covid-19 agar tidak semakin meluas, pemerintah pusat melalui Menkes telah menerapkan sebuah aturan yang disebut juga dengan PSBB. Berikut ini 5 hal penting yang patut kalian ketahui dari Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ).

1. PSBB Berlaku Selama 14 Hari

Berdasarkan Permenkes Nomor 9 tahun 2020, pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar akan berlaku selama 14 hari sejak disetujui Menteri Kesehatan. Contohnya seperti DKI Jakarta yang telah memberlakukan PSBB pada 10 April 2020. Maka pembatasan aturan tersebut akan berlangsung hingga 24 April 2020. Namun apabila penurunan pandemi virus corona di daerah bersangkutan belum mengalami lonjakan yang begitu signifikan. Maka aturan penerapan PSBB masih bisa diperpanjang kembali.

2. Pembatasan Transportasi 

Pada umumnya, transportasi penumpang baik umum maupun pribadi di kota-kota di Indonesia dalam beberapa tahun belakang ini mengalami lonjakan yang begitu besar. Contohnya seperti kemacetan yang terjadi di DKI Jakarta tentunya bukan kondisi yang aneh lagi.

Oleh sebab itu, pemerintah melalui aturan PSBB telah membatasi jumlah penumpang yang diperbolehkan maksimal hingga 50 persen saja. Selain itu jam operasional transportasi umum menjadi pukul 06,00 sampai 18,00. Sedangkan untuk sarana angkutan roda dua seperti Gojek dan Grab hanya diperbolehkan mengangkut barang saja selama masa PSBB.

3. Tidak Ada Penutupan Jalan

Akibat dari kemacetan parah yang sering terjadi maka tidak mengherankan lagi apabila di daerah DKI Jakarta sering terjadi penutupan atau pengalihan jalan. Tetapi seiring berjalannya PSBB maka pemerintah menghimbau kondisi tersebut jangan pernah terjadi lagi. Terlebih lagi bagi para pengguna jalan yang hendak keluar masuk Jakarta.

4. Tidak Ada Tilang Bagi Pelanggar PSBB

Meskipun tetap menggelar Operasi Keselamatan Jaya 2020 selama penerapan PSBB di DKI Jakarta. Seluruh jajaran kepolisian yang bertugas diharapkan tidak pernah melakukan penindakan hukum kepada seluruh pelanggar.

5. Pengiriman Logistik Berjalan Normal

Kendaraan niaga masih diperbolehkan beroperasi selama PSBB terutama di bidang logistik atau angkutan barang. Hal ini bertujuan agar masyarakat tetap bisa mendapatkan pasokan kebutuhan sehari-hari secara normal seperti sediakala.

Aturan tersebut telah tertuang dalam Peraturan Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta Nomor 33 Tahun 2020 yang berbunyi. Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Penanganan Corona Virus Disease 2019 di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Selain itu, ada beberapa kegiatan khusus yang juga tidak luput dari perhatian pemerintah pada saat ini. Contohnya seperti aktivitas di sekolah atau tempat kerja, kegiatan keagamaan, kegiatan di tempat atau fasilitas umum, kegiatan sosial dan budaya, operasional transportasi umum dan kegiatan lainnya yang masuk dalam aspek pertahanan dan keamanan.

Dan berikut ini akan saya berikan informasi terkait jumlah kasus terbanyak positif virus corona di 25 kelurahan di DKI Jakarta per tanggal 10 April 2020 kepada anda.

1. Pegadungan : 28 kasus
2. Pondok Kelapa : 25 kasus
3. Pondok Pinang : 21 kasus
4. Kebon Jeruk : 18 kasus
5. Duren Sawit : 17 kasus
6. Kalideres : 17 kasus
7. Kelapa Gading Barat : 17 kasus
8. Kelapa Gading Timur : 17 kasus
9. Senayan : 16 kasus
10. Cilandak Barat : 13 kasus
11. Menteng Dalam : 13 kasus
12. Tomang : 13 kasus
13. Srengseng : 12 kasus
14. Sunter Agung : 11 kasus
15. Tebat Timur : 11 kasus
16. Utan Kayu Selatan : 11 kasus
17. Bintaro : 10 kasus
18. Lebak Buluk : 10 kasus
19. Tebat Barat : 10 kasus
20. Cempaka Putih Barat : 9 kasus
21. Klender : 9 kasus
22. Pluit : 0 kasus
23. Bangka : 8 kasus
24. Bukit Duri : 8 kasus
25. Duri Kepa : 8 kasus

Terus apa yang membedakan PSBB dengan Lockdown? Jika dilihat secara garis besar, tentu kedua kondisi tersebut sangatlah jauh berbeda. Lockdown yang pada umumnya digunakan suatu negara untuk mengarantinakan suatu wilayah agar masyarakatnya tidak diperbolehkan keluar dari rumah. Sedangkan PSBB masih memperbolehkan warga nya keluar rumah asalkan menaati aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat.

Tinggalkan Balasan